Wednesday, July 30, 2008

Ketahanan Iklim dan Energi Ramah Lingkungan

No energy security without climate security. –-WWF News Center-


Ketahanan energi tidak akan tercapai tanpa ketahanan iklim. Dua elemen ini tidak dapat berdiri secara terpisah. Negara yang ingin meraih energy security seharusnya menggunakan sumber daya energi yang ramah terhadap lingkungan sehingga kondisi iklim akan terjaga keseimbangannya. Langkah ini dapat dilakukan dengan tidak lagi menggantungkan diri terhadap sumber daya fosil yang menyumbangkan banyak gas buang yangtidak bersahabat. Sebaliknya, climate security tidak akan tercapai jika emisi energi yang digunakan merusak lingkungan yang pada akhirnya akan menimbulkan serangkaian perubahan iklim. Ketahanan iklim adalah konsep baru yang berargumen bahwa pemanasan global akan membawa banyak akibat fatal baik nasional maupun secara global. Sementara saat ini, ancaman perubahan iklim menjadi semakin nyata yang disebabkan oleh gas buang pemakaian sumber daya fosil yang tidak terkendali.

Oleh karena itu, perlu dipikirkan sumber daya alternatif lain yang tidak hanya dapat diraih dalam jangka waktu yang panjang, tetapi juga dapat diperbarui dan ramah terhadap lingkungan. Energi yang bersih dan tanpa polusi bukan hanya menjadi idaman masyarakat yang menginginkan alternatif energi di tengah melambungnya harga BBM, kelangkaan minyak tanah dan seringnya pemadaman listrik. Tetapi juga merupakan impian banyak orang yang mulai tergugah akan banyaknya timbunan polusi karbon yang telah menyumbat lapisan atmosfer bumi kita.

Setelah pernah begitu bersemangat untuk memperkenalkan bahan bakar dari biji jarak yang diklaim murah dan eco-friendly, pemerintah juga dengan tergesa-gesa mengumumkan bahwa telah ditemukan bahan bakar air sebagai blue-energy oleh Joko Suprapto. Sayang, dua alternatif sumber daya fosil yang pernah kita jadikan tumpuan sebagai solusi krisis energi ini belum dapat direalisasikan. Selain rendahnya antuasiasme petani unutk menanam tumbuhan jarak, petani juga harus menelan pahit karena biji jarak yang mereka panen tidak dihargai sesuai dengan harga yang dijanjikan. Peluncuran blue-energy yang sekiranya akan diluncurkan bertepatan dengan peringatan 100 tahun kebangkitan nasional pun terpaksa dibatalkan karena penemunya tiba-tiba lenyap pada hari tersebut (walaupun kini sudah ditemukan kembali).

Sebenarnya ada beberapa sumber daya energi yang bersih, tanpa polusi dan dapat diperbaharui, diantaranya adalah : Micro-hydro, geothermal, biofuels, panel surya, dan biogas. Bahan bakar yang saya sebut terakhir adalah gas mudah terbakar yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerob (bakteri yang hidup dalam kondisi kedap udara). Bahan organik yang dapat digunakan untuk menghasilkan biogas adalah kotoran hewan dan manusia, limbah domestik, atau sampah rumah tangga. Bahan-bahan untuk menghasilkan biogas ini ditampung dalam sebuah unit yang berfungsi mengubah limbah hewan dan manusia menjadi campuran gas metana dan karbon dioksida. Hasil dari gas ini sudah terbukti dapat menjadi sumber energi murah yang dapat digunakan untuk memasak atau sumber daya penerangan.

Di daerah Payakumbuh, beberapa rumah tangga sudah menikmati manfaat biogas yang berasal dari limbah sapi sedangkan di China dan Vietnam, biogas sudah dikembangkan sejak tahun 1990-an untuk mencukupi kebutuhan daerah pedalaman yang sulit untuk mendapatkan kayu sebagai bahan bakar. Negara maju seperti Jerman pun sudah jamak mengembangkan biogas sebagai energi alternatif. Biogas dapat menjadi jawaban akan pencarian bahan bakar ramah lingkungan di tengah permasalahan energi yang tidak kunjung terjawab. Biogas pun sangat ramah lingkungan karena mengurangi polusi udara akibat asap dari bahan bakar fosil. Sebagai tambahan, biogas ini juga dapat menghasilkan pupuk organik yan berkualitas baik.

Sudah waktunya pemerintah kita memberdayakan berbagai sumber daya energi alternatif. Dahulu, kita memang dikenal sebagai negara yang pernah dikenal karena kekayaan minyaknya yang berlimpah. Namun, sampai kapan kita akan terus mengeruk cadangan minyak dalam perut bumi yang semakin berkurang? Sampai kapan kita mampu untuk mengikuti laju kenaikan harga BBM? Hal yang paling parah, tentu saja kita tidak ingin terjadinya konflik –atau bahkan perang- yang berkaitan dengan perebutan sumber daya. Ketahanan energi dan ketahanan iklim harus ditangani bersamaan untuk mencapai pembangunan ekonomi sekaligus penanganan perubahan iklim global. Kuncinya, efisiensi energi dan penemuan sumber daya alternatif.

Sumber : WWF, Harian Singgalang, Common Dreams

Climate Security : Iklim dan Ketahanan Pangan Kita

Miris rasanya saat menyaksikan tayangan berita bahwa petani cabai di Serang, Banten membakar tanaman cabai merah yang mulai mengering dan terancam mati. Mereka kesal karena tidak ada air yang masuk ke perkebunan cabai. Berita di KOMPAS yang saya baca kemarin juga menyebutkan bahwa sudah beberapa bulan terakhir ini ratusan warga di Desa Linduk terpaksa menggunakan air irigasi yang kotor untuk keperluan sehari-hari. Debit air di berbagai waduk di Jawa Tengah menurun sehingga air irigasi tidak mengalir. Petani di Sulawesi Barat terpaksa mengeluarkan dana lebih untuk menyewa pompa air untuk menyedot air tanah. Puluhan hetare sawah kekeringan dan terancam gagal panen.

Masih banyak lagi berita sejenis yang kita saksikan dalam 1 bulan belakangan ini yang lagi-lagi berhubungan musim kemarau yang panjang dan curah hujan yang sedikit. Tidak dapat dipungkiri, ancaman dan krisis pangan akan semakin nyata dengan semakin meluasnya kegagalan panen dan kekeringan yang melanda di Indonesia. Turunnya tingkat produksi padi dan tanaman pangan lainnya dalam jangka waktu panjang akan menimbulkan kelangkaan pangan. Hal ini sebenarnya sudah sempat diprediksi oleh National Academy of Science/NAS (2007) yang menunjukkan bahwa pertanian di Indonesia telah dipengaruhi secara nyata oleh adanya variasi hujan tahunan dan antar tahun yang disebabkan oleh Austral-Asia Monsoon and El Nino-Southern Oscilation (ENSO).Tentu saja hal ini berkaitan erat dengan perubahan iklim secara global. Banjir, kenaikan suku yang tajam, kemarau panjang, jadwal tanaman pangan yang tidak menentu dan penurunan kualitas pangan adalah kenyataan yang saat ini sedang terjadi.

Jika, hal ini tidak segera diatasi, bukan tidak mungkin kita akan mengalami kelangkaan sumber pangan. Apakah kita rela tidak mengkonsumsi nasi akibat kelangkaan padi?Apakah kita akan kembali mengimpor beras dan komoditas lain dari luar negeri? Petani, dalam hal ini sebagai rantai pengolah terakhir tidak bisa bekerja sendirian. Keterbasan modal dan pengetahuan yang mereka miliki seharusnya ditanggapi pemerintah dengan berperan lebih aktif dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Kerjasama dengan berbagai peneliti dan pusat penelitian serta berbagai LSM sangat penting karena tidak mungkin petani dapat meraih akses ke berbagai sumber daya yang ada baik finansial maupun non-finansial.

Kabarnya, pemerintah melalui Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) akan memperkenalkan padi varietas baru. Padi jenis baru ini diklaim mampu tahan dalam kemarau panjang maupun banjir dan akan diluncurkan awal bulan Agustus mendatang. Selain itu, pada Pekan Padi Nasional 2008 yang baru ditutup 2 hari lalu, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian juga memamerkan berbagai varietas unggul dan komponen teknologi pra-pasca panen dan perbaikan efisiensi usaha tani yang diharapkan dapat mensosialisasikan berbagai teknologi dalam meningkatkan produksi dan daya saing tanaman padi, serta berbagai informasi ilmu pengetahuan tentang padi. Tujuan ini sejalan dengan tema yang diusung tahun ini yaitu “Inovasi Teknologi Padi Mengantisipasi Perubahan Iklim Global Dalam Rangka Mendukung Ketahanan Pangan”.

Sumber : Sinar Harapan, Liputan 6

Tuesday, July 29, 2008

Menggugah Kesadaran akan Pemanasan Global dan Perubahan Iklim dengan Angka

Pemanasan global dan perubahan iklim terjadi lebih cepat dari yang kita rasakan. Semua kegiatan sehari-hari yang kita lakukan seperti menyalakan peralatan elektronik, membakar sampah, memasak, atau menggunakan kendaraan membutuhkan bahan bakar fosil yang menhasilkan gas buang yang merusak. Melalui kampanye internasional 350, sebuah organisasi lingkunga hidup yang bermukim di Inggris mencoba menyadarkan kesadaran akan berpacunya waktu dalam melawan perubahan iklim. Anggotanya kebanyakan terdiri dari kalangan muda dari seluruh dunia yang dipimpin oleh Bill McKibben, seorang pengarang buku lingkungan hidup dan environmentalist yang bermukim di Amerika Serikat.

Apa, sih, 350 itu?
350 adalah angka yang diklaim oleh Dr. James Hansen, pimpinan NASA Goddard Institute for Sapce Studies, sebagai batas aman bagi kadar karbon dioksida dalam atmosfer. Kadar karbon dioksida ini diukur dalam satuan PPM (Parts Per Million). Angka inilah yang perlu dikembalikan dengan segera karena kadar karbon dioksida dalam atmosfer telah mencapai angka 385 PPM. Tentu saja dengan semakin tingginya angka karbon dioksida di angkasa, ancama pemanasan global dan perubahan iklim akan menjadi semakin nyata.

Dari mana angka ini didapatkan?
Dr. James Hansen, telah lama melakukan penelitan mengenai pemanasan global dan perubahan iklim lebih lama dari siapapun. Dia juga orang pertama yang mepublikasikan di depan kongres Amerika Serikat bahwa bahaya pemanasan global adalah nyata. Dr. James Hansen bersama koleganya menggunakan serangkaian simulasi komputer dan tumpukan data untuk menghitung batas aman kadar karbon dioksida dalam atmosfer. Paper mengenai asal usul angka 350 tersebut dapat ditemukan di sini.

Mengapa harus 350?
350 adalah sebuah angka dan angka adalah sebuah hal yang mampu diterjemahkan secara universal ke dalam bahasa apa saja. Bahkan dalam huruf Arab, Jepang, Rusia, Korea, dan Cina yang sebagian bentuk hurufnya berbeda dengan kebanyakan negara lainnya, namun mereka masih dapat mengenali bentuk angka. Lebih jauh lagi, 350 merupakan sebuah signal bahwa kita harus cepat bergerak untuk mencapai kembali kadar karbon dioksida yang aman.

Angka karbon dioksida sudah mencapai 350, apakah ada tindakan yang bisa kita lakukan?
Tentu saja ada! Analoginya adalah seperti orang yang kecanduan merokok. Mereka tidak langsung mati. Tetapi kita bisa melakukan tindakan pencegahan untuk mengurangi kebiasaan merokok tersebut dan sekaligus mencegah kanker sebagai efek jangkapanjang dari merokok. Lewat bantuan kaum muda, kita bisa melakukan berbagai cara dan kegiatan untuk mencapai kadar karbon dioksida yang aman. Jika melihat kegiatan yang sudah pernah dilakukan, di antaranya adalah berbagai kampanye di sekolah dan universitas serta kegiatan interaktif bersama masyarakat seperti acara kebugaran yang melibatkan 350 peserta dari berbagai bidang olehraga.


Bedanya dengan kampanye-kampanye yang lainnya?

Memang, menurut saya, ada banyak sekali kampanye tentang pemasan global dan perubahan iklim yang ada sekarang ini. Mulai dari komunitas kecil dalam negeri dampai dengan yang dikoordinir secara massal oleh LSM asing. Namun, nilai lebih yang saya patut acungi jempol dari kampanye 350 ini adalah bahwa banyak kader-kader anak muda yang digunakan untuk mengajak kaum muda lainnya untuk tanggap dan bergerak. Lihat saja video 350 yang saya ambil dari youtube ini. Isinya hanya lagu yang berirama up-beat dengan sentuhan perkusi dan tebaran angka 350 di sana-sini. Video yang sederhana ini memancing rasa penasaran saya untuk langsung mengunjungi situsnya di sini. Memang kadang-kadang kesederhaan lebih berhasil untuk menarik kesadaran orang-orang yang awam. Kampanye ini adalah contohnya. Hanya dengan menggunakan angka, angka 350.

Sumber : http://350.org/

Monday, July 28, 2008

Perseteruan Indonesia dengan Newsweek

Dimuatnya Environment Performance Index (EPI) pada majalah Newsweek berbuntut panjang. Indonesia, yang diwakili oleh KNLH akan melayangkan surat keberatan akan posisi EPI Indonesia yang berada pada posisi ke 102 dari 149 negara, jauh dari Malaysia (26), Thailand (53), dan Filiphina (61). Dalam artikel tersebut dinyatakan bahwa Indonesia termasuk dalam daftar teratas negara-negara yang paling tidak ramah lingkungan, sebagian besar karena adanya pembabatan hutan secara besar-besaran.

“Whereas the two biggest carbon emitters, China and the United States, have coal plants and cars to blame, the No. 3 culprit—Indonesia—produces 85 percent of its carbon emissions from forests.”

Environment Performance Index (EPI) adalah metode perhitungan dan perbandingan kebijakan kinerja lingkungan dalam negara. Indeks ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 2002 sebagai pendukung tujuan lingkungan yang telah ditetapkan pada Millennium Development Goals. Indeks ini dikembangkan oleh Universitas Yale dan Universitas Colombia di Amerika.

Well, KNLHI berargumen bahwa data yang didapatkan oleh pihak peneliti Universitas Yale adalah data personal yang diragukan kevaliditasnya. Menterli Lingkunga Hidup, -Rachmat Witoelar- berkata bahwa data yang digunakan bukan data terbaru. Amanda Katili, Staf Khusus Menteri Negara Lingkungan Hidup akan memberikan data terbaru mengenai kondisi hutan di Indonesia untuk mengklarifikasi rangking Indonesia tersebut.

"It is the researchers' own fault if they don't understand Bahasa Indonesia. They could have contacted us for the latest data before publishing the EPI ranking."

Saya heran, rasanya bukan pertama kali ini saja Indonesia meraih “penghargaan” dalam bidang linkungan hidup. Setelah memecahkan rekor sebagai negara penghancur hutan tercepat di dunia, Indonesia juga pernah dituding sebagai penyumbang emisi karbon ketiga terbesar setelah Amerika dan Cina. Atas prestasi-prestasi yang memilukan tersebut, yang dapat dilakukan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup Indonesia adalah protes? Menurut saya, daripada bersusah payah untuk bersilang pendapat dan melayangkan surat protes, lebih baik dipikirkan jalan keluar mengenai masalah illegal logging dan deforestasi hutan Indonesia. Marah-marah hanya akan menghabiskan sumber daya, lebih baik pemerintah duduk bersama dan tegas dalam menindak pelaku penebangan liar dan siapa tahu, peringkat EPI Indonesia akan meningkat pada tahun-tahun berikutnya?

Sunday, July 27, 2008

Climate Change Challenge : Menentukan Masa Depan Kadar Emisi Karbon di Atmosfer

Dari dulu, saya selalu suka dengan program pembelajaran yang memancing keaktifan mahasiswa. Duduk di kelas dan mendengarkan dosen menyampaikan mata kuliah rasanya merupakan siksaan sendiri bagi saya. Memang tidak setiap hari saya merasa tersiksa, karena beberapa dosen favorit saya selalu memberikan kegiatan interaktif seperti survei lapangan atau presentasi. Presentasi di sini bukan hanya sekedar berdiri di depan kelas dan membaca data-data yang telah kita temukan dari buku, jurnal , atau internet. Tetapi juga menggunakan alat peraga yang saya harap dapat membuat teman-teman yang mendengarkan akan lebih dapat mengerti hal-hal yang saya –dan kelompok- sampaikan. Syukur-syukur dapat menambah nilai :")

Hal ini juga berlaku di luar ruang kelas kuliah. Rasanya akan lebih menyenangkan jika melihat animasi atau menjelajah situs di internet untuk dapat lebih mengerti isu-isu yang sedang hangat. Berbicara mengenai ketahanan iklim dan perubahan iklim, saya menemukan sebuah situs yang menyediakan sebuah permainan atau lebih tepatnya simulasi yang dapat memberikan kita gambaran mengenai pertumbuhan kadar karbon dioksida di atmosfer dari tahun 1950-2007. Simulasi ini berbentuk keran air dan sebuah bak penampungan air. Keran air merepresentasikan gas karbon dioksida yang terbuang setiap harinya dan air yang tertampung di bak air melambangkan kadar gas karbon dioksida yang saat ini ada di atmosfer. Tentu saja kita tidak ingin air di dalam bak sampai luber (baca : kadar karbon dioksida melebihi batas aman).

Pada bagian atas, terdapat 3 tombol yang bisa kita pilih :

  • Tombol pertama :tidak peduli dan meningkatkan kadar karbon dioksida.
  • Tombol kedua : menghentikan pertumbuhan emisi karbon dioksida
  • Tombol ketiga : mengurangi emisi karbondioksida

Setiap pilihan akan menimbulkan konsekuensi. Setelah memilih salah satu tombol dan mengklik tombol PLAY, kita akan dapat melihat, hal apakah yang akan terjadi atas pilihan yang telah dibuat.

Untuk mencoba, kamu dapat melakukannya di sini. Sayang sekali, simulasi ini tidak dapat diunduh sehingga kita harus memainkannya secara online.