Di daerah Payakumbuh, beberapa rumah tangga sudah menikmati manfaat biogas yang berasal dari limbah sapi sedangkan di China dan Vietnam, biogas sudah dikembangkan sejak tahun 1990-an untuk mencukupi kebutuhan daerah pedalaman yang sulit untuk mendapatkan kayu sebagai bahan bakar. Negara maju seperti Jerman pun sudah jamak mengembangkan biogas sebagai energi alternatif. Biogas dapat menjadi jawaban akan pencarian bahan bakar ramah lingkungan di tengah permasalahan energi yang tidak kunjung terjawab. Biogas pun sangat ramah lingkungan karena mengurangi polusi udara akibat asap dari bahan bakar fosil. Sebagai tambahan, biogas ini juga dapat menghasilkan pupuk organik yan berkualitas baik.
Wednesday, July 30, 2008
Ketahanan Iklim dan Energi Ramah Lingkungan
Posted by
FarahPutri
at
4:04 AM
3
comments
Links to this post
Labels: BC Blog Competition - CS
Climate Security : Iklim dan Ketahanan Pangan Kita
Masih banyak lagi berita sejenis yang kita saksikan dalam 1 bulan belakangan ini yang lagi-lagi berhubungan musim kemarau yang panjang dan curah hujan yang sedikit. Tidak dapat dipungkiri, ancaman dan krisis pangan akan semakin nyata dengan semakin meluasnya kegagalan panen dan kekeringan yang melanda di Indonesia. Turunnya tingkat produksi padi dan tanaman pangan lainnya dalam jangka waktu panjang akan menimbulkan kelangkaan pangan. Hal ini sebenarnya sudah sempat diprediksi oleh National Academy of Science/NAS (2007) yang menunjukkan bahwa pertanian di Indonesia telah dipengaruhi secara nyata oleh adanya variasi hujan tahunan dan antar tahun yang disebabkan oleh Austral-Asia Monsoon and El Nino-Southern Oscilation (ENSO).Tentu saja hal ini berkaitan erat dengan perubahan iklim secara global. Banjir, kenaikan suku yang tajam, kemarau panjang, jadwal tanaman pangan yang tidak menentu dan penurunan kualitas pangan adalah kenyataan yang saat ini sedang terjadi.
Jika, hal ini tidak segera diatasi, bukan tidak mungkin kita akan mengalami kelangkaan sumber pangan. Apakah kita rela tidak mengkonsumsi nasi akibat kelangkaan padi?Apakah kita akan kembali mengimpor beras dan komoditas lain dari luar negeri? Petani, dalam hal ini sebagai rantai pengolah terakhir tidak bisa bekerja sendirian. Keterbasan modal dan pengetahuan yang mereka miliki seharusnya ditanggapi pemerintah dengan berperan lebih aktif dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Kerjasama dengan berbagai peneliti dan pusat penelitian serta berbagai LSM sangat penting karena tidak mungkin petani dapat meraih akses ke berbagai sumber daya yang ada baik finansial maupun non-finansial.
Kabarnya, pemerintah melalui Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) akan memperkenalkan padi varietas baru. Padi jenis baru ini diklaim mampu tahan dalam kemarau panjang maupun banjir dan akan diluncurkan awal bulan Agustus mendatang. Selain itu, pada Pekan Padi Nasional 2008 yang baru ditutup 2 hari lalu, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian juga memamerkan berbagai varietas unggul dan komponen teknologi pra-pasca panen dan perbaikan efisiensi usaha tani yang diharapkan dapat mensosialisasikan berbagai teknologi dalam meningkatkan produksi dan daya saing tanaman padi, serta berbagai informasi ilmu pengetahuan tentang padi. Tujuan ini sejalan dengan tema yang diusung tahun ini yaitu “Inovasi Teknologi Padi Mengantisipasi Perubahan Iklim Global Dalam Rangka Mendukung Ketahanan Pangan”.
Sumber : Sinar Harapan, Liputan 6
Posted by
FarahPutri
at
3:51 AM
1 comments
Links to this post
Labels: BC Blog Competition - CS
Tuesday, July 29, 2008
Menggugah Kesadaran akan Pemanasan Global dan Perubahan Iklim dengan Angka
Pemanasan global dan perubahan iklim terjadi lebih cepat dari yang kita rasakan. Semua kegiatan sehari-hari yang kita lakukan seperti menyalakan peralatan elektronik, membakar sampah, memasak, atau menggunakan kendaraan membutuhkan bahan bakar fosil yang menhasilkan gas buang yang merusak. Melalui kampanye internasional 350, sebuah organisasi lingkunga hidup yang bermukim di Inggris mencoba menyadarkan kesadaran akan berpacunya waktu dalam melawan perubahan iklim. Anggotanya kebanyakan terdiri dari kalangan muda dari seluruh dunia yang dipimpin oleh Bill McKibben, seorang pengarang buku lingkungan hidup dan environmentalist yang bermukim di Amerika Serikat.
350 adalah angka yang diklaim oleh Dr. James Hansen, pimpinan NASA Goddard Institute for Sapce Studies, sebagai batas aman bagi kadar karbon dioksida dalam atmosfer. Kadar karbon dioksida ini diukur dalam satuan PPM (Parts Per Million). Angka inilah yang perlu dikembalikan dengan segera karena kadar karbon dioksida dalam atmosfer telah mencapai angka 385 PPM. Tentu saja dengan semakin tingginya angka karbon dioksida di angkasa, ancama pemanasan global dan perubahan iklim akan menjadi semakin nyata.
Dari mana angka ini didapatkan?
Dr. James Hansen, telah lama melakukan penelitan mengenai pemanasan global dan perubahan iklim lebih lama dari siapapun. Dia juga orang pertama yang mepublikasikan di depan kongres Amerika Serikat bahwa bahaya pemanasan global adalah nyata. Dr. James Hansen bersama koleganya menggunakan serangkaian simulasi komputer dan tumpukan data untuk menghitung batas aman kadar karbon dioksida dalam atmosfer. Paper mengenai asal usul angka 350 tersebut dapat ditemukan di sini.
Mengapa harus 350?
350 adalah sebuah angka dan angka adalah sebuah hal yang mampu diterjemahkan secara universal ke dalam bahasa apa saja. Bahkan dalam huruf Arab, Jepang, Rusia, Korea, dan Cina yang sebagian bentuk hurufnya berbeda dengan kebanyakan negara lainnya, namun mereka masih dapat mengenali bentuk angka. Lebih jauh lagi, 350 merupakan sebuah signal bahwa kita harus cepat bergerak untuk mencapai kembali kadar karbon dioksida yang aman.
Angka karbon dioksida sudah mencapai 350, apakah ada tindakan yang bisa kita lakukan?
Tentu saja ada! Analoginya adalah seperti orang yang kecanduan merokok. Mereka tidak langsung mati. Tetapi kita bisa melakukan tindakan pencegahan untuk mengurangi kebiasaan merokok tersebut dan sekaligus mencegah kanker sebagai efek jangkapanjang dari merokok. Lewat bantuan kaum muda, kita bisa melakukan berbagai cara dan kegiatan untuk mencapai kadar karbon dioksida yang aman. Jika melihat kegiatan yang sudah pernah dilakukan, di antaranya adalah berbagai kampanye di sekolah dan universitas serta kegiatan interaktif bersama masyarakat seperti acara kebugaran yang melibatkan 350 peserta dari berbagai bidang olehraga.
Bedanya dengan kampanye-kampanye yang lainnya?
Memang, menurut saya, ada banyak sekali kampanye tentang pemasan global dan perubahan iklim yang ada sekarang ini. Mulai dari komunitas kecil dalam negeri dampai dengan yang dikoordinir secara massal oleh LSM asing. Namun, nilai lebih yang saya patut acungi jempol dari kampanye 350 ini adalah bahwa banyak kader-kader anak muda yang digunakan untuk mengajak kaum muda lainnya untuk tanggap dan bergerak. Lihat saja video 350 yang saya ambil dari youtube ini. Isinya hanya lagu yang berirama up-beat dengan sentuhan perkusi dan tebaran angka 350 di sana-sini. Video yang sederhana ini memancing rasa penasaran saya untuk langsung mengunjungi situsnya di sini. Memang kadang-kadang kesederhaan lebih berhasil untuk menarik kesadaran orang-orang yang awam. Kampanye ini adalah contohnya. Hanya dengan menggunakan angka, angka 350.
Sumber : http://350.org/
Posted by
FarahPutri
at
11:45 PM
1 comments
Links to this post
Labels: BC Blog Competition - CS
Monday, July 28, 2008
Perseteruan Indonesia dengan Newsweek
Dimuatnya Environment Performance Index (EPI) pada majalah Newsweek berbuntut panjang. Indonesia, yang diwakili oleh KNLH akan melayangkan surat keberatan akan posisi EPI Indonesia yang berada pada posisi ke 102 dari 149 negara, jauh dari Malaysia (26), Thailand (53), dan Filiphina (61). Dalam artikel tersebut dinyatakan bahwa Indonesia termasuk dalam daftar teratas negara-negara yang paling tidak ramah lingkungan, sebagian besar karena adanya pembabatan hutan secara besar-besaran.“Whereas the two biggest carbon emitters, China and the United States, have coal plants and cars to blame, the No. 3 culprit—Indonesia—produces 85 percent of its carbon emissions from forests.”
Environment Performance Index (EPI) adalah metode perhitungan dan perbandingan kebijakan kinerja lingkungan dalam negara. Indeks ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 2002 sebagai pendukung tujuan lingkungan yang telah ditetapkan pada Millennium Development Goals. Indeks ini dikembangkan oleh Universitas Yale dan Universitas Colombia di Amerika.
Well, KNLHI berargumen bahwa data yang didapatkan oleh pihak peneliti Universitas Yale adalah data personal yang diragukan kevaliditasnya. Menterli Lingkunga Hidup, -Rachmat Witoelar- berkata bahwa data yang digunakan bukan data terbaru. Amanda Katili, Staf Khusus Menteri Negara Lingkungan Hidup akan memberikan data terbaru mengenai kondisi hutan di Indonesia untuk mengklarifikasi rangking Indonesia tersebut.
"It is the researchers' own fault if they don't understand Bahasa Indonesia. They could have contacted us for the latest data before publishing the EPI ranking."
Saya heran, rasanya bukan pertama kali ini saja Indonesia meraih “penghargaan” dalam bidang linkungan hidup. Setelah memecahkan rekor sebagai negara penghancur hutan tercepat di dunia, Indonesia juga pernah dituding sebagai penyumbang emisi karbon ketiga terbesar setelah Amerika dan Cina. Atas prestasi-prestasi yang memilukan tersebut, yang dapat dilakukan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup Indonesia adalah protes? Menurut saya, daripada bersusah payah untuk bersilang pendapat dan melayangkan surat protes, lebih baik dipikirkan jalan keluar mengenai masalah illegal logging dan deforestasi hutan Indonesia. Marah-marah hanya akan menghabiskan sumber daya, lebih baik pemerintah duduk bersama dan tegas dalam menindak pelaku penebangan liar dan siapa tahu, peringkat EPI Indonesia akan meningkat pada tahun-tahun berikutnya?
Posted by
FarahPutri
at
11:46 AM
0
comments
Links to this post
Labels: BC Blog Competition - CS
Sunday, July 27, 2008
Climate Change Challenge : Menentukan Masa Depan Kadar Emisi Karbon di Atmosfer
Dari dulu, saya selalu suka dengan program pembelajaran yang memancing keaktifan mahasiswa. Duduk di kelas dan mendengarkan dosen menyampaikan mata kuliah rasanya merupakan siksaan sendiri bagi saya. Memang tidak setiap hari saya merasa tersiksa, karena beberapa dosen favorit saya selalu memberikan kegiatan interaktif seperti survei lapangan atau presentasi. Presentasi di sini bukan hanya sekedar berdiri di depan kelas dan membaca data-data yang telah kita temukan dari buku, jurnal , atau internet. Tetapi juga menggunakan alat peraga yang saya harap dapat membuat teman-teman yang mendengarkan akan lebih dapat mengerti hal-hal yang saya –dan kelompok- sampaikan. Syukur-syukur dapat menambah nilai :")
- Tombol pertama :tidak peduli dan meningkatkan kadar karbon dioksida.
- Tombol kedua : menghentikan pertumbuhan emisi karbon dioksida
- Tombol ketiga : mengurangi emisi karbondioksida
Posted by
FarahPutri
at
6:44 AM
0
comments
Links to this post
Labels: BC Blog Competition - CS
