Miris rasanya saat menyaksikan tayangan berita bahwa petani cabai di Serang, Banten membakar tanaman cabai merah yang mulai mengering dan terancam mati. Mereka kesal karena tidak ada air yang masuk ke perkebunan cabai. Berita di KOMPAS yang saya baca kemarin juga menyebutkan bahwa sudah beberapa bulan terakhir ini ratusan warga di Desa Linduk terpaksa menggunakan air irigasi yang kotor untuk keperluan sehari-hari. Debit air di berbagai waduk di Jawa Tengah menurun sehingga air irigasi tidak mengalir. Petani di Sulawesi Barat terpaksa mengeluarkan dana lebih untuk menyewa pompa air untuk menyedot air tanah. Puluhan hetare sawah kekeringan dan terancam gagal panen.
Masih banyak lagi berita sejenis yang kita saksikan dalam 1 bulan belakangan ini yang lagi-lagi berhubungan musim kemarau yang panjang dan curah hujan yang sedikit. Tidak dapat dipungkiri, ancaman dan krisis pangan akan semakin nyata dengan semakin meluasnya kegagalan panen dan kekeringan yang melanda di Indonesia. Turunnya tingkat produksi padi dan tanaman pangan lainnya dalam jangka waktu panjang akan menimbulkan kelangkaan pangan. Hal ini sebenarnya sudah sempat diprediksi oleh National Academy of Science/NAS (2007) yang menunjukkan bahwa pertanian di Indonesia telah dipengaruhi secara nyata oleh adanya variasi hujan tahunan dan antar tahun yang disebabkan oleh Austral-Asia Monsoon and El Nino-Southern Oscilation (ENSO).Tentu saja hal ini berkaitan erat dengan perubahan iklim secara global. Banjir, kenaikan suku yang tajam, kemarau panjang, jadwal tanaman pangan yang tidak menentu dan penurunan kualitas pangan adalah kenyataan yang saat ini sedang terjadi.
Jika, hal ini tidak segera diatasi, bukan tidak mungkin kita akan mengalami kelangkaan sumber pangan. Apakah kita rela tidak mengkonsumsi nasi akibat kelangkaan padi?Apakah kita akan kembali mengimpor beras dan komoditas lain dari luar negeri? Petani, dalam hal ini sebagai rantai pengolah terakhir tidak bisa bekerja sendirian. Keterbasan modal dan pengetahuan yang mereka miliki seharusnya ditanggapi pemerintah dengan berperan lebih aktif dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Kerjasama dengan berbagai peneliti dan pusat penelitian serta berbagai LSM sangat penting karena tidak mungkin petani dapat meraih akses ke berbagai sumber daya yang ada baik finansial maupun non-finansial.
Kabarnya, pemerintah melalui Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) akan memperkenalkan padi varietas baru. Padi jenis baru ini diklaim mampu tahan dalam kemarau panjang maupun banjir dan akan diluncurkan awal bulan Agustus mendatang. Selain itu, pada Pekan Padi Nasional 2008 yang baru ditutup 2 hari lalu, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian juga memamerkan berbagai varietas unggul dan komponen teknologi pra-pasca panen dan perbaikan efisiensi usaha tani yang diharapkan dapat mensosialisasikan berbagai teknologi dalam meningkatkan produksi dan daya saing tanaman padi, serta berbagai informasi ilmu pengetahuan tentang padi. Tujuan ini sejalan dengan tema yang diusung tahun ini yaitu “Inovasi Teknologi Padi Mengantisipasi Perubahan Iklim Global Dalam Rangka Mendukung Ketahanan Pangan”.
Sumber : Sinar Harapan, Liputan 6

1 comments:
jangankan karena masalah perubahan iklim, wong belakangan ini aja negara ini selalu mengimpor beras, Petani indonesia tidak hanya digempur masalah eksternal karena perubahan iklim tapi juga karena kebijakan pemerintah yang sering terlalu berpikir dalam kerangka pasar bebas tanpa melihat belum siapnya kelembagaan di indonesia....
Post a Comment