Friday, July 18, 2008

Menanamkan Cinta Bumi Ala Siswa SMA

Hari-hari pertama memasuki sekolah baru biasanya ibarat gado-gado bagi sebagian siswa baru. Rasa senang akan menjalani tingkat pendidikan pendidikan yang lebih tinggi bercampur aduk dengan perasaan bingung ketika kaki menyusuri lorong-lorong kelas yang belum pernah dijelajahi sebelumnya. Mengenali wajah teman baru lainnya yang masih asing juga perlu perjuangan tersendiri karena masing-masing siswa masih enggan dan segan untuk saling menyapa. Belum lagi adanya seabrek kegiatan MOS (Masa Orientasi Siswa) yang dipandang sebagai momok yang menakutkan karena dipenuhi kekhawatiran akan bertumpuknya tugas dan hukuman dari para guru dan senior.

Namun, hal itu tidak terjadi di SMAN 70. Sekolah unggulan yang berlokasi di wilayah Bulungan, Jakarta Selatan memilih menjauhi kegiatan orientasi siswa baru yang identik dengan kekerasan dan keletihan yang luar biasa. Sebagai gantinya, panita MOS yang terdiri dari anggota OSIS dan PK (Perwakilan Kelas) mengusung tema "Cinta Bumi" sebagai benang merah yang menyatukan seluruh kegiatan. Tema cinta bumi ini dipilih berangkat dari adanya semangat untuk menyadarkan kawula muda untuk lebih menghargai keberadaan dan kelestarian bumi.

Sekitar 400-an murid baru yang berasal dari berbagai SMP memakai atribut yang konon sudah menjadi keharusan dalam setiap masa orientasi siswa. Tentu saja atribut ini disesuaikan dengan tema yang sudah dipilih. Setiap siswa baru diwajibkan untuk membuat tanda pengenal yang digantungkan pada leher. Tanda pengenal ini berukuran setengah bola yang merepresentasikan bentuk bumi. Diameter dan warnanya sudah ditentukan oleh pihak panitia sehingga siswa baru bukan hanya dihidupkan kesadaran untuk mencintai bumi tetapi juga dipancing kreatifitas untuk dapat menciptakan bentuk setengah bola yang proporsional dan utuh.

Siswa juga diajak untuk menyumbangkan ide untuk mencegah dan mengurangi dampak pemanasan global dimulai dari lingkungan sekolah yang tertuang dalam bentuk esai. Diharapkan ide yang muncul dapat direalisasikan sehingga membuat SMA yang merupakan gabungan dari SMA 9 dan SMA 11 ini menjadi lebih sejuk dan asri. Sekitar 4 tahun yang lalu ketika saya mengunjungi sekolah ini, halaman sekolah dan tempat parkir memang tampak asri dan rindang. Pada pagi hari pun, udara masih terasa sejuk dan dingin. Burung gereja yang berwarna coklat pun masih sudi menghuni puluhan pohon tinggi dan lebat yang ada di sana. Namun sayang, pada tahun 2003 yang lalu, hujan dan angin lebat yang melanda Jakarta telah merubuhkan beberapa pohon dan tiang listrik sehingga kini pohon-pohon dan tanaman tua yang sudah menjulang tinggi terpaksa ditebang sebagian karena khawatir akan keselamatan penghuni sekolah. Mungkin karena alasan inilah, tema cinta bumi dipandang bumi dipandang pas sebagai solusi untuk mengembalikan kerindangan lingkungan sekolah. Apalagi momennya terasa sangat pas dengan gaung pencegahan pemanasan global yang dicanangkan oleh berbagai instansi dan pemerintah.

Pada hari kedua, setiap siswa juga diwajibakan untuk membawa 5 kilogram majalah/koran atau kertas bekas yang tidak terpakai. Menurut sumber yang dapat dipercaya, koran tersebut akan dikumpulkan kepada pengepul kertas bekas. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membiayai kegiatan siswa yang akan datang. Saya berharap, sebagian dana tersebut juga digunakan untuk mendanai penghijauan lingkungan SMAN 70 sebagai komitmen nyata pihak panitia dalam mengaplikasikan tema cinta bumi. Kita tunggu saja perkembanganya.

0 comments: