Monday, July 28, 2008

Perseteruan Indonesia dengan Newsweek

Dimuatnya Environment Performance Index (EPI) pada majalah Newsweek berbuntut panjang. Indonesia, yang diwakili oleh KNLH akan melayangkan surat keberatan akan posisi EPI Indonesia yang berada pada posisi ke 102 dari 149 negara, jauh dari Malaysia (26), Thailand (53), dan Filiphina (61). Dalam artikel tersebut dinyatakan bahwa Indonesia termasuk dalam daftar teratas negara-negara yang paling tidak ramah lingkungan, sebagian besar karena adanya pembabatan hutan secara besar-besaran.

“Whereas the two biggest carbon emitters, China and the United States, have coal plants and cars to blame, the No. 3 culprit—Indonesia—produces 85 percent of its carbon emissions from forests.”

Environment Performance Index (EPI) adalah metode perhitungan dan perbandingan kebijakan kinerja lingkungan dalam negara. Indeks ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 2002 sebagai pendukung tujuan lingkungan yang telah ditetapkan pada Millennium Development Goals. Indeks ini dikembangkan oleh Universitas Yale dan Universitas Colombia di Amerika.

Well, KNLHI berargumen bahwa data yang didapatkan oleh pihak peneliti Universitas Yale adalah data personal yang diragukan kevaliditasnya. Menterli Lingkunga Hidup, -Rachmat Witoelar- berkata bahwa data yang digunakan bukan data terbaru. Amanda Katili, Staf Khusus Menteri Negara Lingkungan Hidup akan memberikan data terbaru mengenai kondisi hutan di Indonesia untuk mengklarifikasi rangking Indonesia tersebut.

"It is the researchers' own fault if they don't understand Bahasa Indonesia. They could have contacted us for the latest data before publishing the EPI ranking."

Saya heran, rasanya bukan pertama kali ini saja Indonesia meraih “penghargaan” dalam bidang linkungan hidup. Setelah memecahkan rekor sebagai negara penghancur hutan tercepat di dunia, Indonesia juga pernah dituding sebagai penyumbang emisi karbon ketiga terbesar setelah Amerika dan Cina. Atas prestasi-prestasi yang memilukan tersebut, yang dapat dilakukan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup Indonesia adalah protes? Menurut saya, daripada bersusah payah untuk bersilang pendapat dan melayangkan surat protes, lebih baik dipikirkan jalan keluar mengenai masalah illegal logging dan deforestasi hutan Indonesia. Marah-marah hanya akan menghabiskan sumber daya, lebih baik pemerintah duduk bersama dan tegas dalam menindak pelaku penebangan liar dan siapa tahu, peringkat EPI Indonesia akan meningkat pada tahun-tahun berikutnya?

0 comments: